Spirit

Belajar Menjadi Bapak

Sebenarnya ada banyak hal dalam kegiatan sehari-hari yang bisa dikategorikan sebagai proses belajar, baik itu kegiatan rutin ataupun kegiatan tidak rutin. Tidak usah jauh-jauh, yang rutin misalnya bekerja. Walaupun dalam bekerja kita sudah biasa menjalani tahapan-tahapannya, namun kadang-kadang juga ada hal baru yang kita temukan, hal baru yang coba kita pecahkan atau atau hal baru yang jalani, proses-proses tersebut adalah termasuk proses belajar. Nah kalau hal yang tidak rutin [dan akan menjadi rutin saat diperlukan] banyak juga tergantung masing-masing individu. Semuanya ada dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya saja aku contohkan adalah diriku sendiri, memiliki saudara perempuan (kakak) yang tinggal lumayan jauh dari tempatku tinggal sekarang. Di sudah menikah dan memiliki seorang anak yang baru berumur 10 bulan. Tapi tugasnya sebagai ibu menjadi berat karena suaminya harus bekerja jauh dalam jangka waktu yang lama. Nah disinilah aku ikut ambil bagian tugas yang seharusnya kakak iparku lakukan untuk  mengurus si kecil yang baru berumur beberapa bulan. Seandainya saja seorang anak yang baru berumur balita [batita bahkan] tersebut sudah mengerti ditinggal jauh, pasti akan sangat merasakan tidak ada figur seorang bapak di rumahnya. Tidak mau hal itu terjadi, lima hari dalam setiap minggu aku sempatkan waktu untuk  ikut membantu dalam segala hal agar keponakanku tumbuh menjadi seorang balita yang sehat dan merasakan figur seorang bapak [meskipun masih belajar].

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kewalahannya seorang perempuan yang baru menjadi ibu untuk pertama kalinya dan ditinggal sendirian di rumah karena suaminya mencari kerja di tempat yang jauh. Bagaimana jika dia benar-benar sendirian di rumah? Hmm..pasti sangat sulit. Kakakku memang lebih memilih untuk merawat bayinya sendiri tanpa menggunakan jasa baby sitter, karena ia ingin anaknya mau nurut orang tua kelak [ada benarnya juga]. Karena itulah beruntung juga aku mendapatkan kesempatan untuk ikut merawat secara langsung. Ya hitung-hitung belajar supaya bisa diterapkan nanti saat menjadi “bapak” yang sesungguhnya..[hahaha]. Ternyata lumayan repot juga. Saat ibunya sibuk di dapur menyiapkan sarapan atau makan siang, aku bertugas menjaga, mengganti popok saat si kecil ngompol, ikut melek semalam suntuk saat rewel bahkan kadang-kadang memandikan juga saat ibunya benar-benar belum sempat karena terlanjur menyelesaikan hal dirumah yang kebetulan tidak bisa ditunda, kecuali satu hal saat si kecil sudah menangis karena haus, terpaksa harus ibunya yang mengambil alih, yaitu menyusui [hehehe..].

Sungguh menjadi sebuah pelajaran berharga yang mungkin tidak aku dapatkan di tempat lain. Banyak hal yang bisa diambil dari semua proses tersebut. Yang terpenting yang bisa aku petik adalah bagaimana mengatasi sekian banyak hal yang lumayan membuat kewalahan dengan ikhlas, sehingga bisa menjadi seorang bapak yang baik dan telaten. Di awal memang sangat sulit, tapi semakin lama semakin terbiasa dengan keadaan seperti itu. Sejak menjalani proses ini, aku baru benar-benar merasakan bagaimana Bapak merawatku dulu, ternyata beliau adalah Superdad!!

Iklan

2 thoughts on “Belajar Menjadi Bapak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s