Jalan-jalan · Spirit

Susahnya Mencari Kos

Hari semakin siang, waktu yang tersisa juga semakin sedikit. Menghitung  mundur menuju puncak ke khawatiran, 6 hari lagi. Dari judulnya saja sudah ketahuan ada aura putus asa. Hehe..memang iya. Beberapa hari terakhir sibuk lalu lalang di jalanan, masuk ke gang-gang kecil hanya untuk mencari rumah kos. Seandainya saja kontrak kos di tempat lama diperpanjang tentu saja aku tidak akan repot mencari tempat tinggal baru.  Alasan tuan rumah mau di renovasi, beberapa bagian sudah dibongkar sana-sini. Tapi kenapa aku yang harus jadi korban “penggusuran”?? Begini nih nasib jadi anak rantauan, hampir sama dengan kehidupan manusia purba, hidup selalu berpindah tempat alias nomaden. [apa aku saja yang seperti ini, bingung!].

Sebenarnya bukan susah mencari kosnya, tapi yang susah adalah menyesuaikan antara jenis kos dengan budget yang tersedia alias kemampuan dompet untuk “bernapas” tiap bulannya..hahaha.. Berlebihan sedikit bahasanya🙂. Maksudnya adalah pas ketemu kos bagus, ternyata isi dompet tidak mengijinkan, cari lagi yang lain, dapat yang murah kondisi sekitar atau lingkungannya tidak cocok di hati, begitu seterusnya sampai dapat yang seimbang, atau paling tidak dapat yang agak seimbang lah. Intinya adalah susah-susah gampang.

Padahal suasana di kos lama masih nyaman....Aku rindu suasana kos lama…

Disela-sela pencarian, ada juga hal lucu yang terjadi. Mulai dari salah masuk rumah orang sampai si empunya kos-kosan salah tangkap. Kejadiannya siang, tepat 30 menit menjelang tengah hari. Sedari tadinya mencari di suatu jalan, aku menemukan sederetan bangunan bagus. “Sepertinya ini lumayan mahal deh”. Gumamku dalam hati. Ah..tidak ada salahnya aku coba dulu, iseng-iseng bertanya. “Selamat siang Bu, maaf ada kamar kosong ga?” [Itu pertanyaan yang biasa aku lontarkan di setiap tempat kos yang aku jumpai]. Memang dasar Ibu kos ini pikirannya ngeres atau bagaimana, aku juga kurang tau. Dengan muka sinis dia menjawab: “Maaf Mas, ini bukan penginapan!”. Gubrakkk…seperti disamber gledek [halah!], kaget juga mendapat jawaban seperti itu. Haloo…Menurut Lo…?? tampangku separah itukah..??huhuhu.. [ingin rasanya menjawab seperti itu], untung aku keburu sadar. “Ow..maaf Bu, saya bukan mencari penginapan tapi kamar kos”. Aku menanggapi dengan raut muka “semakin manis”🙂 . Masih saja si Ibu ini sinis, langsung jawab “Udah penuh!”. Entah karena malu salah tebak atau bagaimana, ya sudahlah. Aku pergi tapi sempat juga pamitan. “Makasi ya Bu”. Seumur-umur tumben mendapat tanggapan miring seperti itu.  Nasib..nasib.. . [sabar ya].

Mungkin bagi yang tidak terlalu mengkhawatirkan isi dompet, mencari kos idaman bisa dikatakan sangat gampang. Tapi apa daya, aku adalah tipe orang yang selalu khawatir akan dompet. Prikitiuww…!! Walaupun begitu, tidak boleh menyerah, kalau ada kemauan pasti ada jalan..!! hehe.. Semangat Sob!!!

Selamat mencari kos baru buat yang senasib denganku🙂.

3 thoughts on “Susahnya Mencari Kos

  1. Indekos di wilayah Denpasar – Badung memanglah mahal. Dulu sewaktu masih bujangan memang sih belum begitu terasa. Tapi ketika ada anak istri, kita harus mengupgrade rumah kos kita menjadi rumah kontrakan. Piuh…. cape deh…

    Akhirnya… jalan terakhir memang haruslah pulang kampung. Tamba, semangat ya! Jangan menyerah. Tidak ada kata menyerah bagi orang Negara. SEMANGAT!!!

  2. Ya saya sempat juga berpikir sejauh itu. Sekarang saja sudah ribet, apalagi nanti.😦 . Seandainya saja tempat kerja ini bisa dipindah, ingin rasanya saya pindahkan ke kampung..hehe.. Terima Kasih Bli semangatnya, walaupun sampai sekarang belum dapat kos juga..hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s