Spirit

Profesional dan relatif

Woookeee! Setuju sekali kalau ada yang bilang kalau profesional itu adalah “Bisa membedakan mana urusan pribadi dan mana urusan pekerjaan!” Nilai 100 untuk pendapat itu. Tapi, seiring perubahan banyak hal dalam pekerjaan, apakah profesional tetap baku seperti itu? Aku sendiri nggak yakin….

Sering sekali mendengar orang menyebut kata profesional, seperti beberapa hari lalu saat melewati satu ruangan yang hanya dibatasi tembok palsu. Adalah seorang yang sepertinya punya kedudukan lebih tinggi, memberikan satu “wejangan” ke orang yang sepertinya punya jabatan di bawahnya. “Kamu harus profesional donk! Nggak bisa kerja seperti itu. Kalau udah nggak sanggup, silahkan ajukan surat resign!” Wuidiiih…sadis ya Mbak ini. Aku heran, dan berkata dalam hati – emang dia sendiri udah profesional?. Jawabanku sama – tentu dalam hati juga – Aku sendiri nggak yakin!

Menurutku, profesional itu sebatas obrolan saat meeting saja. Proses pelaksanaannya akan banyak dipengaruhi faktor-faktor lain yang membuat seseorang lupa bahwa pengertian profesional itu seperti yang aku tulis di awal posting ini. Mood! Iya, itu biang keroknya! Bahasa sininya adalah “Suasana hati yang sedang gundah gulana”, makanya seseorang bisa nggak profesional dalam sekejap. Presiden sekalipun, kalau masih kerja dipengaruhi flukstuasi mood, ujung-ujungnya profesional = relatif!

Tetap saja, profesional – mungkin – hanya jadi obrolan meeting saja. :p

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s