Spirit

Hore! Aku ditilang

Pelajaran berharga memang bisa didapatkan kapan dan dimana saja, termasuk di jalan. Kalau bisa dibilang, mungkin pelajaran ini adalah akibat dari gabungan antara sombong dan ketidaktelitian. Tapi, tetap saja aku menganggapnya sebagi sial yang menyenangkan.

Beberapa jam sebelum kejadian, temanku bertanya tentang arti rambu-rambu jalan yang dilewati antara jalan Denpasar – Gilimanuk. Dengan sombongnya aku menjawab : “Gimana sih, ngakunya punya SIM tapi nggak tahu rambu-rambu lalu lintas. Rambu yang itu artinya nggak boleh nyalip” Sambil menunjuk rambu larangan nyalip. Saling ejek sempat terjadi..tapi akhirnya selesai..

Singkat cerita, balik ke kos, lewat jalan yang sama. Mumpung hari sudah siang, kalau lewat jalan utama pasti macet dan panas, lebih baik cari jalan lain yang melintasi sawah. Dengan percaya diri belok kanan tanpa lihat rambu yang terpasang. Hasilnya? Dihadang polisi dan disuruh minggir. Beberapa menit baru sadar kalau ada rambu larangan belok kanan dari arah berlawanan! Ah, sial…aku digiring ke tempat teduh untuk dimintai identitas. Ingat betul dengan kata-kata pak polisi tu.

Obrolan singkat terjadi (maksudnya mohon ampunan untuk nggak ditilang), maklumlah naluri membela diri mendadak muncul.

Aku : “Maaf pak, saya benar-benar nggak tahu kalau nggak boleh belok kanan disini. Saya tumben soalnya lewat sini pak”
Polisi : “Walaupun tumben harus lihat-lihat donk ada rambu”, sambil inta STNK dan SIM
Aku : Berusaha membela diri, “Habis, rambu-rambunya tertutup pohon pak, bagaimana saya bisa lihat kalau ada larangan”
Polisi : “Nggak ada alasan, kamu ditilang. Apalagi ini pelat luar daerah. Saya catat dulu identitasnya, nomor telepon kamu berapa?”
Aku : “081xxxxxxxxxx”.
Polisi : “Ini surat tilangnya, STNK-nya saya tahan, nanti kamu tebus dengan biaya 30 ribu setelah sidang di kantor pengadilan Tabanan ya, tanggal 15 Sepetember jam 10 pagi”
Aku : “Hah? Harus di Tabanan ya Pak? Nggak boleh di Denpasar saja?” Masih berusaha memohon keringanan.
Polisi : “Jelas nggak bisa! Kamu kan melanggarnya disini, jadi harus diproses disini juga. Gimana? Bisa nggak?” Pak Polisi menegaskan lagi.
Aku : “Waduh, saya nggak bisa Pak, saya kan kerja dan nggak mungkin ada waktu”
Polisi : “OK kalau begitu, titip saja uang tebusannya disini. Nanti biar saya yang proses. STNKnya nggak jadi saya tahan. Lain kali jangan melanggar lagi ya”. Pak polisi mengingatkan.
Aku :” Terima kasih pak” Ucapku sambil melihat sisa uang di dompet tinggal 20 ribu.

Itu murni karena keteledoranku nggak melihat rambu sebelum belok, selain faktor alam – rambu tertutup daun pohon perindang . Tapi ada satu pertanyaan mengganjal dan ingin sebenarnya tahu lebih jauh, yaitu “Mana yang akan dipilih orang saat kena tilang? Membayar di tempat 30 ribu dan urusan beres atau sidang di kantor pengadilan dan menebus STNK 30 ribu juga?

Sekilas ada yang aneh…! Ya jelas aneh lah, untuk apa orang buang-buang waktu ikut sidang dan bayar 30 ribu. Sedangkan dengan bayar 30 ribu di tempat urusan sudah beres? Hayo… Pertanyaan lain muncul lagi, Apakah benar saat sidang juga bayar dengan jumlah yang sama, yaitu 30 ribu? Ahhh…pusing… 

Oh iya, masih ada hal lagi membuatku nggak puas, kenapa aku saja yang ditilang sementara yang melakukan hal sama dibiarkan lewat. Setelah aku menegur “Itu ada juga yang lewat kok nggak ditilang Pak?”, barulah Pak Polisi itu membunyikan peluit. Aneh..aneh….Aku semakin nggak ngerti. Seketika aku juga sadar, tadi nyombong tahu rambu-rambu. Ah sudahlah, 30 ribu itu mungkin bukan rejeki untukku. #berusaha ikhlas

Yang jelas satu pelajaran berharga ini adalah, Walaupun nggak mengerti prosedur tilang-menilang, perhatikan rambu-rambu lalu lintas dengan baik saat berkendara dimana saja!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s