Spirit

Curhat Tentang Jalan

Sebenarnya dari dulu ingin sekali membuat tulisan ini. Ya tahu sendirilah, semakin diundur semakin nggak ada waktu dan akhirnya lupa. Tapi aku jadi ingat lagi saat pulang kampung ke kota Negara, Jembrana tepat sehari sebelum hari raya Galungan, 31 Januari lalu. Sebelumnya aku pernah menulis  tentang Jalan Berlubang, dan sekarang aku mengulang hal yang sama.

OK, To The Point saja. Sebenarnya, dari hati yang paling dalam aku sangat kecewa dengan kualitas jalan provinsi Denpasar-Gilimanuk. Entah karena apa – aku nggak mau tahu – yang jelas kualitasnya sangat buruk!! Bagaimana nggak, ada ribuan lubang di tengah jalan. Mending lubangnya kecil dan dangkal, lha ini besar dan dalam. Kalau boleh aku sebut, ini bukan lubang lagi, tapi kubangan kerbau. 

Dari daerah Denpasar sampai ke Tabanan bagian timurnya sih nggak masalah, karena jalan lebih banyak yang baru. Tapi memasuki daerah Bajera, Tabanan, emosi meningkat tinggi. 90% bagian jalan lebih mirip kuburan, bahkan mungkin gundukan kuburan itu lebih bagus. Pas di salah satu tikungan, jalan seperti dilipat, setelah itu lubangnya banyak sampai melewati jembatan. Jadi, mau nggak mau kita harus membawa kendaraan (khususnya sepeda motor) dengan cara zig-zag. Setelah itu apakah sudah aman? Iya, tapi nggak lama, karena masih ada banyak lagi jebakan serupa. Maksudnya, hanya beberapa ratus meter jalan mulus setelah itu berlubang banyak sekali. Hal itu terus berulang sampai di kota Negara.

Yang membuatku nggak habis pikir adalah, di beberapa bagian jalan belum genap satu tahun diaspal kok sudah busuk lagi? Di beberapa bagian lain, lubangnya sama sekali nggak pernah mendapat perhatian pemerintah. Sorry ya aku langsung bilang begitu, karena sepertinya memang dibiarkan. OK, di bagian lain lagi, lubang jalan hanya ditambal sulam (dengan kualitas seadanya). Nggak sampai beberapa lama, tambalan itu sudah hilang. Keren! Sangat keren! Entah sampai kapan jalan Provinsi Bali yang terkenal dengan pariwisatanya ini akan mulus seperti pakaian bapak-bapak di atas sana. Kalau memang menunggu setiap 5 atau 10 tahun sekali untuk mengaspal jalan, kenapa nggak sekalian buat yang bagus?? Ya minimal supaya nggak parah seperti ini. 

Mau menyalahkan siapa?? Truk bermuatan besar dari Pulau Jawa ke Bali? Dari dulunya memang banyak truk bermuatan besar ke Bali. Artinya kualitas jalan harus bagus. Nyalahin kondisi cuaca dan kontur jalan yang nggak bagus? Aku yakin ada solusi untuk itu dan itu bukan alasan jalannya cepat rusak. Sebagai orang yang sering melintasi jalur ini, aku nggak banyak berharap. Nggak terlalu penting lampu penerangan jalan diperbaiki, nggak penting jalannya gelap gulita karena lampunya banyak yang rusak, yang penting adalah jalannya nggak berlubang! Itu saja. Dan kalau boleh meminta untuk saat ini, ingin sekali rasanya aku melihat pak Gubernur melakukan perjalanan melewati jalur ini dengan mobil murah. Jangan pakai mobil dinas. Harapannya adalah, sama-sama bisa merasakan nikmatnya melewati jalan penuh jerawat ini.

Kesimpulannya, resiko kecelakaan akan sangat tergantung :

  • Kondisi cuaca, saat hujan lebih beresiko karena lubang jalan penuh air. Jadi kita nggak tahu kalau disana ada lubang.
  • Siang atau malam. Malam jauh lebih beresiko karena gelap. Ada di beberapa daerah, gelap total.
  • Sering atau nggaknya lewat jalur Denpasar-Gilimanuk. Aku membuat tulisan ini karena ada pengalaman pahit tentang lubang di jalan ini. Kalau jarang atau nggak pernah lewat jalur ini sampai ke Jembrana, aku sarankan jangan ngebut!!
  • Walaupun sudah sering lewat, jangan sombong. Ada kemungkinan bisa lupa posisi kubangan di sebelah mana.
  • Banyak tidaknya kendaraan. Aku sarankan, jangan membelakangi truk atau kendaraan besar terlalu dekat. Karena kita nggak bisa melihat kondisi jalan di depan, lebih baik menjauh.
  • Jangan emosi kalau disalip. Orang-orang sebayaku biasanya cepat emosi kalau disalip orang lain yang dianggap menyebalkan. Tapi sebaiknya mengalah. Jangan berambisi untuk balap di jalur ini, sangat beresiko. Mungkin akan keren kalau bisa menghindari lubang sekaligus jadi pemenang. Tapi kalau nyebur ke lubang jalan, minimal velg sepeda motor berubah jadi angka 8.

Jadi kalau dikombinasikan, resiko paling tinggi melintasi jalan Denpasar – Gilimanuk ini adalah saat : Malam hari + Hujan deras + Ngebut + membelakangi kendaraan besar + belum hapal kondisi jalan. Solusinya : kembali ke pepatah lama, pelan-pelan saja ya, demi keselamatan! Nggak ada gunanya ngebut, apalagi bawa sepeda motor. Semoga bermanfaat.🙂

8 thoughts on “Curhat Tentang Jalan

  1. Sejak pimpinan provinsi diganti, kabarnya dana anggaran yang dialokasikan untuk perbaikan infrastruktur jalan raya, diturunkan secara drastis. Maka dari itu, bisa dimaklumi apabila perbaikan pun tidak berjalan dengan baik. Beberapa contoh riil yang bisa dilihat selain jalan Denpasar – Gilimanuk adalah Denpasar – Uluwatu atau Denpasar – Tanah Lot. Sedangkan untuk jalur Denpasar – petang kalo tidak salah sudah dikerjakan per Tahun 2011 kemarin. itupun belum semua…

    Terkait kualitas, inilah yang kerap menjadi kendala bagi kami, tim teknis yang kebagian tugas untuk memeriksa pekerjaan. Paling besar kalo bicara soal kualitas, ya Dipengaruhi sekali oleh Pengetahuan dan Pengalaman Direksi Teknis yang bertugas untuk melakukan pengawasan lapangan. Jika ybs kurang tanggap, bisa jadi malah dibohongi oleh para rekanan pemenang Tender kegiatan.

    Soal Tambalan, ada beberapa kriteria yang biasanya ditetapkan untuk menangani, meski saya pribadi tidak menutup mata bahwa dari segi pengerjaan dan kualitas memang seadanya. ini pula yang sempat saya lontarkan dalam bentuk kritik ke pimpinan atas kinerja beberapa pengawas lapangan yang pada akhirnya berujung pada pergantian personil dan rasa dendam pada saya tentu saja… hehehe…

    1. Hmmmm…..susah juga ya ternyata. Ingin kerja bersih, ada yang nggak suka, padahal untuk kepentingan umum. Karena itu, saya jadi nggak banyak berharap. Nggak punya power untuk itu, hanya mengandalkan curhat di tulisan saja.😀

  2. jalan berlubang itu juga bisa jadi simbol yg punya filsosofi, Pak:
    1. Bahwa sistem di negara kita pun spt masih spt lubang2 itu..(blm ke arah sempurna, khususnya bagi rakyat)
    2. Dlm bhs rakyat: “kapan diperbaiki ya?”, dlm bhs pemborong: “peluang kerjaan proyek nih”, dlm bhs aparat pemerintah: “kesempatan cari celah dgn lobi2 ke anggota DPR/DPRD buat nentuin anggaran”
    ..he he he…salam kompak dari Ampah, Kalimantan Tengah, Pak!

    1. Hohoho….saya setuju. Masalahnya sama (Jalan berlubang), tapi maknanya berbeda.
      Jalan Berlubang = Derita (rakyat) = Kerjaan Baru (Pemborong) = Peluang Besar (pemerintah).
      Sekarang hanya bisa berharap dan berdoa…
      Terima kasih Mas Iwan, salam hangat dari Bali🙂

  3. wahh,, saya jd sedih baca artikel ini karena mengingatkan saya wkt jatuh krna jln berlubang

    yg jelas.. sekalipun ada yg diuntungkan, “bukan berarti harus ada yang dirugikan..” msh mending klo yg dirugikan cm rugi uang (yg sedikit), ini menyangkut nyawa,,, sedikit informasi saja, ada banyak sekali korban nyawa dari berbagai kendaraan (khususnya motor) yg meninggal karna jatuh ke lubang {buaya} saat di perjalanan, dan salah satunya adalah polisi…
    saya sendiri sering sekali melihat orang terjatuh di lubang2 ‘buaya’ itu dg mata kepala sendiri saat mengendarai motor

    yg saya pikirkan, apa yg bisa saya (rakyat biasa) lakukan biar pemerintah itu nggak seenaknya sendiri,
    dan utamanya jalan denpasar-gilimanuk bisa mulus-lus-lus kyk jalan di luar negeri (jepang misalnya)?
    apa saya harus demo?

    1. Saya juga sedih pernah melihat dan hampir mengalami sendiri kecelakaan karena kondisi jalan yang buruk. Bahkan saya sempat turun ke jalan mengukur kedalam kubangan itu. Gila! Ternyata banyak sekali yang dalamnya melebihi satu jengkal. Kadang-kadang saya berpikir, protes seperti biasa nggak akan pernah dapat perhatian, bagaimana kalau bercocok tanam di lubang-lubang jalan? Seperti yang pernah dilakukan warga di daerah Pangyangan dengan menanam pisang. Setelah kejadian itu masuk koran (Bali Post kalau nggak salah), baru pemerintah bergerak. Intinya, pemerintah sekarang ini kesannya harus dipermalukan dulu baru mengambil solusi. Jengkel sekali melihat kondisi seperti ini. Fiuhh.. *ngelap keringat*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s