Spirit

Kemana perginya konsep Tri Hita Karana?

Tri Hita Karana

Saat teknologi dan jumlah penduduk mengalami peningkatan yang sangat pesat, kesadaran terhadap hal-hal inti yang mendukung keharmonisan hidup justru semakin berkurang. Di beberapa bagian malah disepelekan. Ini masalah serius karena tingkat keegoisan manusia yang semakin berkembang tanpa kontrol. Bukan tanpa alasan menjadikan keharmonisan ini sebagai isu penting saat ini, karena konsep keseimbangan yang seharusnya jadi bagian paling diperlukan dalam proses sehari-hari, pelan-pelan mulai ditinggalkan. Padahal, konsep keseimbanganlah yang mengatur supaya semuanya berjalan lancar dan sesuai porsinya masing-masing.

Bicara tentang keseimbangan dan Bali, ada satu konsep yang sudah ada dari jaman dulu, yaitu Tri Hita Karana. Secara umum Tri Hita Karana ini berarti tiga hal yang menyebabkan kesejahteraan hidup manusia. Tiga hal itu adalah Parhyangan (Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan), Pawongan (Hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia) dan Palemahan (Hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungannya). Ketiga hal pokok inilah yang menjadi alat ukur seberapa sejahtera sebenarnya hidup kita sebagai manusia, yang diberi kemampuan untuk mengendalikan dan mempertanggungjawabkan keseimbangan ekosistem.

Parhyangan – Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan. Indonesia sebagai negara yang menjamin kebebasan rakyatnya untuk meyakini agamaanya masing-masing adalah salah satu contoh dukungan konsep Parhyangan secara global. Yaitu mendukung secara penuh masyarakatnya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Sang Pencipta, sesuai ajarannya masing-masing. Tujuan penekanan pada bagian ini adalah karena agama berfungsi sebagai penuntun manusia untuk membuat satu konsep keseimbangan dan mewujudkannya.

Pawongan – Setelah keharmonisan dengan Tuhan terjalin lewat ketaatan melaksanakan ajaran masing-masing, selanjutnya manusia mengimplementasikan dalam kehidupan nyata. Yaitu rukun dalam bermasyarakat dimulai dari lingkungan kecil, komunitas, berbangsa dan bernegara. Kalau konsep ini dijalankan dengan serius, tidak akan ada perpecahan antara satu orang dengan orang lain atau satu kelompok dengan kelompok lain hanya karena perbedaan pendapat. Melihat kejadian beberapa hari terakhir yang hangat di Bali, sepertinya konsep ini sama sekali sudah tidak terpikirkan. Karena itulah, muncul pertanyaan di benak : “Kemana larinya konsep Tri Hita Karana?”

Palemahan – Ini bagian terakhir yang tidak kalah penting. Keseimbangan yang terjalin antara manusia dengan alam atau lingkungannya sangat menentukan kesejahteraan manusia itu sendiri. Bagaimana tidak, kita sebagai manusia selama ini bergantung kepada alam. Tanah, air, api, udara dan segala hal yang dikandung bumi adalah alam. Bagaimana mungkin kita mengatakan tidak tergantung? Setelah menyadari kita ketergantungan kepada alam, lalu kenapa kita masih saja merusaknya? Bukan hanya merusak, bahkan di beberapa sisi mulai menghancurkan bagian penting dari konsep keseimbangan ini sendiri.

Dari ketiga konsep ini, yang menjadi motor penggeraknya adalah kita sebagai manusia. Untuk mewujudkannya, sangat mudah! Hanya dimulai dengan kesadaran dari diri sendiri, yaitu kita saling membutuhkan satu sama lain. Setelah semuanya punya visi dan misi yang sama, gabungan-gabungan kecil ini akan membentuk satu kekuatan penyeimbang yang luar biasa, dan tentu saja simbiosis mutualisme yang berkelanjutan. Dengan begitu, kita akan terbiasa untuk menjadikan keharmonisan sebagai nilai tertinggi yang harus dicapai dalam hidup. Semoga, hal-hal kecil berdampak positif ini bisa dilakukan setiap saat supaya bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia dan dunia secara global dan Bali secara khusus, supaya terciptanya Ajeg Bali. (tmb)

Semoga bermanfaat

Iklan

6 thoughts on “Kemana perginya konsep Tri Hita Karana?

  1. Satu artikel yang cukup mendalam, terutama untuk saya yang seorang pendatang baru di Bali. Alangkah baiknya kalau konsep Tri Hita Karana itu bisa berjalan dengan baik. 😉

  2. Sadar akan kemampuan diri, mampu beradaptasi dengan lingkungan dan keluarga, saya yakin dimanapun kita berada akan mampu menjadi lebih baik bagi semua orang 🙂

  3. Perlahan tapi pasti, konsep-konsep seperti ini akan larut dengan kondisi terkini, padahal konsep warisan ini sangat relevan dan membumi dijaman yang gonjang-ganjing.

    1. Halo Pak Aldy, apa kabar? Lama sekali saya nggak pernah berkunjung. Terasa sekali konsep ini semakin pudar, ya karena tingkat egois orang-orang semakin tinggi. 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s