Spirit

Tentang Menunda

Saya merasa ditampar bolak balik oleh satu tulisan career coach, @ReneCC di kompas karier yang judulnya Workaholic = Working Hard without meaningJadi begitu saya lihat judulnya saja sudah langsung tertarik dan meluangkan waktu untuk membacanya sampai selesai. Baru membaca 60% bagian tulisan itu, kuping panas dan rasa benci mengampiri pikiran ini. Jangan salah sangka dulu, saya benci diri sendiri setelah mengetahui sepertinya tulisan itu mewakili apa yang saya lakukan selama ini. Damn! Serius, baru kali ini ada tulisan yang berhasil memberikan saya kesadaran hanya lewat pertanyaan sederhana. Dan dengan bodohnya saya bisa memberikan jawaban yang menunjukkan siapa diri saya yang sebenarnya. Artinya apa, ada yang nggak beres dengan pola pikir yang dipakai selama ini.

OK, sekarang tentang penundaan. Memang sih paragraf di atas nggak ada kaitan langsung dengan judulnya, tapi tetap ada korelasinya. Secara sederhana, saya menganggap diri ini sebagai workaholic. Kenapa, karena ya saya lebih banyak membuang waktu! Kalau boleh saya kutip dari tulisan itu isinya seperti ini :

Spending longer time working does not always mean more work being done. Apakah meluangkan waktu lebih lama dalam bekerja berarti lebih produktif dan bermanfaat?

Dua kalimat itu sebenarnya sudah cukup menampar dan itu benar. “Spending longer time working” selama ini terlalu sering dilakukan hanya gara-gara satu racun, yaitu : MENUNDA! Yang pernah mengalami hal sama dan sudah berhasil keluar dari racun itu, mungkin saat ini hanya menertawakan saya setelah membaca tulisan ini. Kadang-kadang saya merasa seperti tidak punya banyak tenaga untuk menolak pemikiran seolah-olah masih ada banyak waktu. Apalagi ada orang yang berkata “Owh, masih ada banyak waktu…”. Kata-kata seperti itu sebenarnya lebih menyakitkan daripada orang bilang “hasil kerjamu busuk banget!!”. Kenapa? Karena efeknya saya rasakan di akhir. Semakin dibayangi oleh “banyaknya sisa waktu”, semakin besar godaan menunda pekerjaan.

Pun, sampai sekarang saya belum bisa mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasinya. Akibatnya banyak sekali, mulai dari buang-buang waktu untuk hal yang sebenarnya tingkat kepentingannya nggak terlalu tinggi, merusak indera dan anggota badan lainnya sampai otak terperangkap dalam lingkaran “sempurna yang sebenarnya nggak perlu”. Sebenarnya saya sudah tahu hal itu nggak sehat, tapi otak ini susah untuk nggak perfeksionis melihat hasil pekerjaan. Padahal sebenarnya orang lain yang menerimanya nggak terlalu memberikan apresiasi berlebih, bahkan kadang dianggap biasa saja. Bukan maksudnya gila pujian karena memang saya nggak pernah sama sekali mengaharapkan orang memuji hasil pekerjaan saya. Hanya saja ada perasaan kurang puas kalau hal yang saya kerjakan nggak sesuai dengan yang saya inginkan.

Komitmen selalu ada, tapi energi untuk mengeksekusinya seolah-olah tidak pernah mencukupi!

Iklan

25 thoughts on “Tentang Menunda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s