Spirit

Dan laki-laki pun bergosip

Saya tegaskan di awal, yang bergosip bukan saya, tapi saya yang memberitakan :p .

Beberapa waktu lalu (tepatnya beberapa bulan lalu), pada waktu itu kira-kira jam setengah 7 malam saya mendapat kiriman surat undangan pernikahan teman (yang ke sekian kalinya). Saat itu saya sedang sibuk, jadi saya tidak membaca dengan teliti.  Keesokan harinya saya buka, ternyata sore pada hari itu juga adalah resepsinya. Mau nggak mau segala urusan harus ditunda dulu, supaya bisa mendatangi undangan. Oh iya, saya belum cerita tentang surat undangannya. Surat undangannya biasa, biasa banget dibanding beberapa surat undangan teman lain yang sepertinya berlomba membuat yang terbaik, paling menarik dan mahal tentunya. tapi bukan itu poinnya.

Singkat cerita saya sudah di lokasi upacara yang notabene adalah satu kampung. Jadi di kampung saya itu, walaupun udah berdekatan nggak cukup hanya memberitahu lewat obrolan, tapi ngundang lewat surat undangan juga. Jadi kesan saya begitu sampai disana, saya kagum! Sebelumnya memang belum datang kesana, karena saya sendiri kebetulan baru pulang kampung. Kagum karena dekorasinya keren banget. Benar kata orang-orang yang yakin, pernikahan itu sekali seumur hidup, jadi harus maksimal dalam segala hal. Termasuk teman saya yang satu ini, mungkin dia punya prinsip yang sama. Apapun itu, terlepas dari orangnya seperti apa, saya kagum karena terlihat dalam hal ini teman saya sangat total dalam membuat acara besarnya meriah dan memberikan aura bahagia kepada undangan yang hadir.

Tapi, berbeda sekali antara kekaguman saya dengan orang-orang yang hadir disana. Sebagian besar yang saya temui adalah orang-orang di kampung saya tentunya, tapi komentar mereka kok nggak masuk dalam kamus saya. Di beberapa kumpulan bapak-bapak yang isinya laki-laki semua (ya iyalah), aku mencoba mencari tahu seperti apa komentar mereka dalam obrolan tentang acaranya teman saya ini. Sekali lagi, ternyata sebagian besar bapak-bapak ini bergosip!! Percaya atau tidak mereka bergosip seperti kumpulan ibu-ibu yang juga membahas topik yang sama. Intinya adalah, mereka cenderung mencibir keberhasilan tetangganya dalam membuat acara meriah, bukan kagum atau memberikan apresiasi yang baik. Ini kutipan beberapa obrolan mereka :

Bapak A : Gila, masa acara begini saja sewa kursi dan perlengkapannya 9 juta! Duit darimana dia?

Bapak B : Kalau untuk ukuran di kampung kita, harga segitu kemahalan. Mending beli sepeda motor aja.

Bapak C : Kalau menurut saya sih, 4 juta masih masuk akal lah ya.

Bapak D : Lihat aja ntar, habis acara stres berat deh mikirin utang banyak.

Bapak E (bisik-bisik) : Kalau saya yang punya acara ini, ga akan semegah ini cuma untuk acara pernikahan.

Bapak F : Bayangin, Setelah acaranya selesai dengan biaya mahal, belum ada dua hari ternyata abis ini istrinya minta cerai…sial banget tuh…haha..

Dan disambung oleh tawa menjijikan bapak-bapak yang lainnya.

Gila!! Itu bapak-bapak coy, mending yang gue denger itu ibu-ibu (maap ya, ibu-ibu emang terkenal suka gosip kok). Saya nggak habis pikir aja, baru kali ini saya mendengar sendiri obrolan mereka seperti itu. Bener satu kutipan yang bilang ” Nggak senang kalau melihat orang lain senang”. Ini adalah salah satu kebiasaan masyarakat kita yang masih punya pola pikir kolot dan sebaiknya berbenah. Sebagian besar kok berkomentar negatif dengan keberhasilan orang lain, bukannya memberikan ucapan selamat secara ikhlas. Pulang dari kondangan, saya hanya senyum-senyum heran dengan isi pikiran orang-orang tadi.

2 thoughts on “Dan laki-laki pun bergosip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s